TELADAN SAYYIDINA ALI K W

A.   Kemuliaan; Sayyidina Ali K.W
  1. Kemuliaan adalah dengan akal dan adab, bukan dengan asal-usul dan keturunan.
  2. Tidak ada kemuliaan bersama adab yang buruk.
  3. Kemuliaan adalah meyakini kematian bahwasanya ia berada di leher manusia.
  4. Kemuliaan berkaitan dengan kekecewaan, malu dengan tidak mendapatkan sesuatu, dan kesempatan berjalan seperti jalannya awan, maka cepat-cepatlah engkau ambil semua kesempatan yang baik.
  5. Tidak ada keimanan yang (nilainya lebih besar) seperti malu dan sabar.
B.   Sabar; Sayyidina Ali K.W
  1. Sabar adalah kunci kesenangan.
  2. Sabar adalah benteng dari kefakiran.
  3. Sabar adalah keberanian.
  4. Kesudahan sabar adalah positif dan menyenangkan.
  5. Sabar termasuk salah satu sebab kemenangan.
  6. Sabar adalah kendaraan yang tidak akan menjatuhkan pengendara¬nya.
  7. Menanggung kesombongan kehormatan lebih berat daripada menanggung kesombongan kekayaan, dan kehinaan kefakiran menghalangi seseorang dari kesabaran, sebagaimana kebanggaan kekayaan mencegah seseorang dari berbuat adil.
  8. Menanggung beban adalah kuburan aib.
  9. Sabar ada dua, yaitu: sabar terhadap apa yang engkau benci, dan sabar terhadap apa yang engkau sukai.
  10. Buanglah darimu segala kesusahan yang menimpamu dengan kesabaran yang teguh dan keyakinan yang baik.
  11. Sesungguhnya di antara perbendaharaan kebajikan adalah sabar terhadap segala musibah dan menyembunyikan musibah itu.
  12. Orang yang bersabar pasti akan meraih keberuntungan, meskipun itu diperoleh setelah waktu yang lama.
  13. Bagi setiap bencana pasti ada batas yang berakhir padanya, sedang¬kan obatnya adalah sabar terhadapnya.
  14. Kesabaran yang teguh akan memadamkan api nafsu.
  15. Seandainya kesabaran berbentuk seorang laki-laki, pasti dia adalah seorang laki-laki yang saleh.
C.   Rendah hati
  1. Rendah hati (tawadhu) adalah suatu kenikmatan yang tidak dimengerti oleh orang yang dengki.
  2. Sombong terhadap orang-orang yang sombong adalah tawadhu itu sendiri.
  3. Rendah hati termasuk salah satu cara mendapatkan kemuliaan.
  4. Rendah hati membawa kepada keselamatan.
  5. Tidak ada nasab (yang lebih mulia) seperti rendah hati.
  6. Buah dari rendah hati adalah (mendapatkan) kecintaan.
  7. Kerendahhatian seseorang di saat dia memiliki kedudukan menjadi perlindungan baginya ketika dia mengalami kejatuhan.
  8. Temuilah orang-orang ketika mereka butuh kepadamu dengan keceriaan dan kerendahhatian. Maka, jika engkau terkena suatu musibah dan keadaan buruk menimpamu, lalu engkau bertemu dengan mereka, maka engkau telah aman dan terlepas dari bahaya kehinaan karena kerendahhatianmu itu.
  9. Orang-orang golongan atas, jika mereka terdidik, mereka rendah hati; dan jika mereka menjadi miskin, mereka menyerang.
  10. Imam ‘Ali a.s. berkata kepada seseorang yang memuji-mujinya secara berlebihan, sementara kesetiaannya kepada beliau diragukan, “Aku tidak seperti yang kaukatakan, dan ‘di atas’ apa yang engkau sembunyikan di dalam hatimu.”
  11. Orang yang rendah hati seperti jurang yang di dalamnya berhimpun air hujan dan air hujan lainnya, sedangkan orang yang sombong seperti bukit yang tidak menetap di dalamnya air hujannya dan air hujan yang lainnya.
  12. Jika engkau telah melakukan segala sesuatu, maka jadilah seperti orang yang tidak melakukan apa pun.
D.   Qonaah; Syayyidina Ali KW
  1. Imam ‘Ali a.s. pernah ditanya tentang firman Allah Ta’ala: Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (QS 16:97), Imam `Ali a.s. menjawab, “la adalah qana`ah (kepuasan).”
  2. Buah (hasil) dari qana’ah adalah kenyamanan.
  3. (Qana’ah adalah) menjaga apa yang ada di tanganmu lebih engkau cintai daripada meminta apa yang ada di tangan orang lain.
  4. Orang merdeka adalah budak selama dia tamak, sedangkan budak adalah orang yang merdeka selama dia qana’ah.
  5. Janganlah engkau malu memberi (bersedekah) walaupun itu sedikit, karena tidak memberi itu lebih sedikit.
  6. Kefakiran dan kekayaan keluar berkeliling, lalu keduanya bertemu dengan qana’ah, maka keduanya menetap (bersama).
  7. Jika kekayaan bertambah, maka berkuranglah selera.
  8. Tidak ada perbendaharaan yang lebih berharga daripada qana’ah
  9. Kekayaan yang paling besar adalah meninggalkan banyak keinginan.
E.   Zuhud
  1. Zuhud seluruhnya terdapat di antara dua kalimat dari ayat Alqur’an. Allah SWT berfirman: supaya kamu tidak berduka atas apa yang luput darimu, dan tidak terlalu gembira atas apa yang diberikan Nya kepadamu (QS 57:23) . Maka, barangsiapa yang tidak berduka atas apa yang telah lewat, dan tidak terlalu bergembira dengan yang didapat, dia telah mengambil zuhud dalam kedua sisinya (secara sempurna).
  2. Zuhud di dunia adalah pendek angan-angan, bersyukur ketika mendapatkan nikmat, dan menjauhi segala hal yang haram.
  3. Zuhud adalah perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.
  4. Tidak akan binasa orang yang hemat, dan tidak akan menjadi miskin orang yang zuhud.
  5. Seutama-utama zuhud adalah menyembunyikan zuhud.
  6. Zuhud adalah kekayaan.
  7. Orang yang zuhud terhadap dinar dan dirham adalah lebih mulia daripada dinar dan dirham.
  8. Zuhudlah di dunia, niscaya Allah akan memperlihatkan kepadamu aib-aib dunia itu, dan janganlah engkau lalai, maka sesungguhnya engkau bukanlah orang yang tidak mengerti akan dirimu sendiri.
  9. Beruntunglah orang-orang yang zuhud di dunia; yang merindukan kehidupan akhirat. Mereka adalah orang-orang yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan, tanahnya sebagai tilamnya, airnya untuk bersuci, Alqur’an sebagai syiarnya, dan do’a sebagai bantalnya. Kemudian mereka meninggalkan dunia sama sekali sebagaimana yang ditempuh al-Masih (`Isa a.s.).
  10. Kekayaan yang paling mulia adalah meninggalkan banyak keinginan.
  11. Sesungguhnya orang-orang yang zuhud di dunia, hati mereka menangis walaupun mereka tertawa, kesedihan mereka bertambah wa laupun mereka berbahagia, dan mereka membenci diri mereka wa laupun mereka senang dengan rezeki yang dikaruniakan kepada mereka.
  12. Tidak ada kezuhudan (yang lebih utama) seperti kezuhudan terhadap segala hal yang haram.
  13. Imam `Ali a.s. berkata dalam menyifati orang-orang yang zuhud, “Mereka adalah orang-orang yang tinggal di dunia, tetapi mereka bukan termasuk penghuninya; mereka hidup di dunia, tetapi mereka seperti yang bukan berasal dari dunia.”
  14. Jika engkau tidak membutuhkan sesuatu, maka tinggalkanlah ia dan ambillah yang engkau butuhkan saja.
F.    Budi pekerti; Sayyidina Ali K.W
Budi pekerti yang mulia ada sepuluh: dermawan, malu, jujur, menyampaikan amanat, rendah hati (tawadhu), cemburu, berani, santun, sabar, dan syukur.
  1. Tiga macam orang yang tidak diketahui kecuali dalam tiga situasi: (pertama), tidak diketahui orang pemberani kecuali dalam situasi perang. (Kedua), tidak diketahui orang yang penyabar kecuali ketika sedang marah. (Ketiga), tidak diketahui sebagai teman kecuali ketika (temannya) sedang butuh.
  2. Janganlah sekali-kali engkau menjadi orang yang keburukannya lebih kuat daripada kebaikannya, kekikirannya lebih kuat daripada kedermawanannya, dan kekurangannya lebih kuat daripada kebajikannya.
  3. Pandanglah buruk pada dirimu apa yang engkau pandang buruk pada selainmu.
  4. Semulia-mulia nasab adalah akhlak yang baik.
  5. Tidak ada teman yang seperti akhlak yang baik, dan tidak ada harta warisan seperti adab.
  6. Hendaklah engkau ridha akan perlakuan orang-orang terhadapmu sama seperti engkau ridha atas perlakuanmu terhadap mereka.
  7. Adab adalah pusaka yang terbaik.
  8. Jika engkau menyukai akhlak yang mulia, maka hendaklah engkau menjauhi segala hal yang haram.
  9. Tidak adanya adab adalah sebab segala kejahatan.
  10. Perjalanan adalah ukuran akhlak.
  11. Kasihanilah orang-orang fakir yang sedikit kesabarannya, kasihanilah orang-orang kaya yang sedikit syukurnya, dan kasihanilah semua karena lamanya kelalaian mereka.
  12. Kemuliaan keturunan yang paling tinggi adalah akhlak yang baik.
  13. Ketakwaan adalah akhlak yang utama.
  14. Akhlak yang baik adalah sebaik-baik teman.
  15. Kalau segala sesuatu harus dipisah-pisahkan, maka dusta tetap bersama takut, kejujuran bersama keberanian, santai bersama keputusasaan, kelelahan bersama kerakusan, penolakan bersama ketamakan, dan kehinaan bersama utang.
  16. Hendaklah kalian menjaga adab. Sebab, jika kalian raja, pasti kalian akan melebihi raja-raja yang lain; jika kalian penengah, pasti kalian akan dapat mengatasi (yang lain); dan jika kehidupan kalian miskin, pasti kalian akan dapat hidup (terhormat) dengan adab kalian.
  17. Pilihlah untuk diri kalian, dari setiap kebiasaan, yang paling bagusnya, karena sesungguhnya kebaikan merupakan kebiasaan.
  18. Semulia-mulia raja adalah yang tidak dicampuri kesombongan dan tidak menyimpang dari kebenaran. Sekaya-kaya orang adalah yang tidak tertawan oleh ketamakan. Sebaik-baik kawan adalah yang tidak menyulitkan kawan-kawannya. Dan sebaik-baik akhlak yang paling dapat membantunya dalam ketakwaan dan ke-wara `-an (kehati-hatian dalam beragama).
  19. Seseorang tidak akan menjadi mulia sehingga dia tidak peduli dengan pakaian yang mana saja dia muncul (di tengah-tengah masyarakatnya).
  20. Adab adalah pakaian yang senantiasa baru.
G.   Santun dan memberi ma’af
  1. Kesantunan adalah penutup yang menutupi, sedangkan akal adalah pedang yang tajam. Maka, tutupilah kekurangan perangaimu dengan kesantunanmu, dan perangilah nafsumu dengan akalmu.
  2. Kesantunan adalah perangai yang utama.
  3. Kesantunan adalah keluarga.
  4. Ada kalanya suatu kalimat ditelan (tidak jadi diucapkan) oleh seorang yang santun karena khawatir dampak keburukan darinya, dan cukuplah kesantunan itu sebagai penolong.
  5. Seandainya engkau bukan seorang yang santun, maka jadikanlah dirimu seperti orang yang santun. Sebab, barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, hampir-hampir dia termasuk golongan mereka.
  6. Orang yang paling utama maafnya adalah orang yang paling kuasa membalas.
  7. Maafkanlah orang yang menzalimimu.
  8. Sesungguhnya Allah ingin agar kekhilafan orang yang murah hati dimaafkan.
  9. Maafkanlah kesalahan manusia, dan janganlah engkau mengadukan kesalahan siapa pun yang engkau sendiri tidak menyukainya.
  10. Maaf diberikan kepada orang yang mengakui kesalahan, bukan kepada orang yang terus-menerus melakukan kesalahan.
  11. Janganlah engkau mempermalukan wajah orang yang meminta maaf dengan mencelanya.
  12. Permintaan maaf menjadi rusak di tangan seorang yang tercela, sama dengan baiknya ia di tangan orang yang mulia.
  13. Biasakanlah dirimu dengan toleransi.
  14. Terimalah permintaan maaf orang yang meminta maaf kepadamu.
H.   Mengekang hawa nafsu
  1. Perangilah hawa nafsu kalian, sebagaimana kalian memerangi musuh-musuh kalian
  2. Sesuai dengan perjuangan jiwa seseorang dan penolakannya terhadap syahwatnya serta penolakannya untuk mengikuti kesenangannya (yang diharamkan), dan penolakan atas apa yang menjadikan mata berkeinginan memandangnya, maka di situlah terletak pahala dan siksaan.
  3. Orang yang bijak adalah yang dapat menguasai hawa nafsunya.
  4. Janganlah sekali-kali engkau menuruti nafsumu, dan jadikanlah yang membantumu untuk menghindar darinya adalah pengetahuanmu bahwasanya ia berupaya mengalihkan perhatian akalmu, mengacaukan pendapatmu, mencemarkan kehormatanmu, memalingkan kebanyakan urusanmu, dan memberatkanmu dengan akibat yang akan engkau tanggung di akhirat. Sesungguhnya nafsu adalah permainan. Maka, jika datang permainan, menghilanglah kesungguhan. Padahal, agama tidak akan pernah berdiri tegak dan dunia tidak akan menjadi baik kecuali dengan kesungguhan.
  5. Sesungguhnya saat engkau meninggalkan kebenaran, engkau pasti sedang menuju kepada kebatilan; dan saat engkau meninggalkan sesuatu yang benar, engkau meninggalkannya menuju kesalahan.
  6. Kepada Allahlah kami berharap agar Dia memperbaiki apa yang rusak dari hati kami, dan kepada-Nyalah kami memohon pertolongan untuk memberikan petunjuk pada jiwa kami. Sebab, hati berada di tangan-Nya, Dia mengaturnya sesuai yang Dia kehendaki.
  7. Orang yang baik adalah yang mampu mengatur nafsunya sesuai keinginannya dan menolaknya dari segala keburukan, sedangkan orang yang jahat adalah yang tidak seperti itu.
  8. Janganlah engkau menuruti nafsumu dan perempuan, dan kerjakanlah apa yang menurutmu baik.

Cegahlah nafsu yang bertentangan dengan akalmu, yaitu dengan menentang keinginannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *