Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijani RA Al Khatmul Auliya’ Al Quthbul Maktum

Diceriterakan dalam kitab Rimah (cetakan terbaru) jilid: 2 halaman 496, bersumber dari ceritera Sayyidi Muhammad Al Ghali Abu Thalib ra. bahwa pada suatu malam di hadapan para murid murid beliau yang berkumpul di zawiyahnya, Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra, memanggil Sayyidi Syeikh Muhammad Al ghali Abu Thalib ra. dia adalah salah satu sahabat besar beliau yang terkenal kealiman dan ketinggian pangkat, himmah serta kewaliannya. Dia juga tergolong syurafa’ (kata tunggalnya syarif), yaitu sebutan bagi mereka yang tergolong keturunan Rasulullah SAW dari Sayyidah Fathimah Az Zahra Al Batuul ra. dengan suaminya Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallaahu wajhahu. Dia juga termasuk sahabat Sayyidi Syeikh yang berani bertanya jika ada hal hal yang memang perlu untuk ditanyakan. Ketika beliau sudah hadir dan para sahabat besar yang lain juga berkumpul, Sayyidi Syeikh minta persaksian dan mengatakan:قَدَمَايَ هَتَانِ عَلَى رَقَبَةِ كُلِّ وَلِيِّ للهِ تَعَالَى
“Kedua kakiku ini berada diatas pundak semua Wali Allah SWT”Sayyidi Syeikh Muhammad Al Ghali Abu Thalib ra bertanya, “Ya Sayyidi, apakah tuan berada dalam keadaan tetap sadar atau dalam keadaan tidak sadar dan hilang akal?”.. Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra, menjawab:بَلْ أَنَا فِى الصَّحَو وَالبَقَاءِ وَكَمَالُ العَقْلِ, وَللهِ الحَمْدُ وَالْمِنَّةِ
“Bahkan saya berada dalam keadaan sehat dan tetap sadar serta akal yang sempurna, dan bagi Allah segala puji dan karunia”.Lalu Sayyidi Muhammad Al Ghali ra bertanya lagi: lalu bagaimana pendapat Tuan tentang pernyataan Sayyidi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani ra yang menyatakan:قَدَمِي هَذِهِ عَلَى رَقَبَةِ كُلِّ وَلِيِّ للهِ تَعَالَى 
“Satu kakiku ini berada diatas pundak semua Wali Allah SWT”Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani radliyallaahu anhu menjawab:صَدَقَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ يَعْنِي أَهْلُ عَصْرِهِ,وَأَمَّا أَناَ فَأَقُولُ قَدَمَايَ هَتَانِ عَلَى رَقَبَةِ كُلِّ وَلِيِّ للهِ تَعَالَى مِنْ لَدُنَّ أَدَمَ اِلَى النُّفِخَ فِى الصُّوْرِ
“Benar (pernyataan) Syeikh Abdul Qadir Al Jailani ra itu. Maksudnya untuk para auliya’ yang hidup pada zaman beliau */. Sedangkan (khusus) aku, maka aku katakan: “Kedua kakiku ini berada diatas pundak semua Wali Allah SWT sejak Nabi Adam as sampai ditiupnya sangka kala (kiamat)”.*/ Maksudnya Sayyidi Syeikh Abdul Qadir Al Jailani ra adalah Sulthanul Auliya’ pada zaman beliau masih hidup, adapun setelah beliau wafat maka jabatan itu pindah kepada Wali Quthub berikutnya. Karena dalam setiap zaman harus ada 124000 wali, dan yang memegang pucuk pimpinan adalah seorang Wali Quthub.Lalu Sayyidi Muhammad Al Ghali Abu Thalib ra bertanya lagi: Bagaimana Ya Sayyidi, jika suatu saat nanti ada orang lain berkata seperti yang tuan katakan: Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani radliyallaahu anhu menjawab
لاَيَقُولُهُ أَحَدٌ بَعْدِي
“Tak seorangpun yang akan berkata seperti ini setelahku”Lalu Sayyidi Muhammad Al Ghali ra bertanya lagi: Ya Sayyidi, Tuan mempersempit kesempatan atas turunnya rahmat dan karunia Allah Yang Maha Luas. Bukankah Allah itu Maha Kuasa untuk memberi futuh kepada seorang Wali, lalu Dia memberinya ; fuyudhat, tajalliyat, minnah, ma’rifah, ilmu ilmu, hikmah, asraar, taraqqiyaat dan ahwal yang lebih banyak dari pada yang diberikan kepada tuan?… Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani radliyallaahu anhu menjawab:بَلَى قَادِرٌ عَلَى ذَلِكَ وَأَكْثَرَ مِنهُ وَلَكِنْ لاَ يَفعَلُهُ لِأَنَّهُ لَمْ يُرِدْهُ, أَلَمْ يَكُنْ قَادِرًا عَلَى أَن يَنْبِئُ أَحَدًا وَيُرسِلُهُ إِلَى الخَلقِ وَيُعطِيَهُ أَكثَرُ مِمَّا أَعْطَى مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ, وَهَذَا مِثْلُ ذَلِكَ مَا أَرَدَهُ فِى الأَزَلِ وَلَمْ يُسَبِقُ فِيهِ عِلْمُهُ تَعَالَى.(رماح : 2 \ 496)
“Benar, Allah SWT berkuasa berbuat seperti itu bahkan yang jauh lebih besar sekalipun. Tapi tidak akan dilaksanakan karena Allah tidak menghendakinya, Bukankah Allah SWT berkuasa untuk mengangkat seorang Nabi (lagi) dan diutus untuk makhluk-Nya dan memberinya karunia yang lebih banyak dari pada yang diberikan kepada Rasulullah SAW? Dan itulah perumpamaannya. Allah tidak menghendaki sejak zaman azali (sebelum alam ada), dan hal tersebut tidak tercantum (terencana) dalam ilmu Allah SWT”. (Rimah cetakan terbaru: Jilid 2 halaman: 496)Catatan penting:
Dipanggilnya Sayyidi Syeikh Muhammad Al Ghali Abu Thalib sebagai saksi, mempunyai makna yang sangat besar sekali. Karena masalah yang akan dikabarkan oleh beliau adalah masalah dan tanggung jawab sangat besar, maka dalam hal ini dibutuhkan saksi saksi dari orang orang besar dan punya pengaruh yang besar pula. Gunanya adalah untuk kepentingan masa depan, agar tidak ada fitnah dan pelecehan.Dalam berbagai kesempatan, Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani ra, telah memberikan berbagai penjelasan tentang Al Khatmul Auliya’, Al Quthbul Maktuum, baik berupa sifat sifat maupun keutamaannya diantara para awliya’. Diantara penjelasan penting yang menggambarkan betapa tingginya kedudukan beliau disisi Allah SWT dan Rasulullah SAW dan perbandingannya dengan para awliya’ yang lain berikut ini kami kutip secara berturut turut sebuah penjelasan yang terdapat dalam ktab Al Khalashatul waafiyah halaman 76 sebagai berikut:أَمَّا فَضْلُ الشَّيخِ سَيِّدَناَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ فَهُوَ شَهِيرٌ وَظَاهِيرٌ كَاالشَّمسِ فِى وَسَطِ السَّمَاءِ فَهُوَ القُطْبُ الْمَكْتُومِ وَالكَنْزُ الْمُطَلْسَمِ وَالخَاتِمِ لِلأَقطَابِ الْمُحَمَّدِيِّينَ وَالأَولِيَاءِ الصَّالِحِينَ، فَلَيسَ لِوَلِيٍّ مِنَ الأَولِيَاءِ مَرْتَبَةً تُسَاوِي مَرتَبَتُهُ وَلاَ مَقَامَ أَسْمَى وَأَرْفَعُ مِنْ مَقَامِهِ وَلاَ مَشْرَبَ أَوسَعَ وَأَتَمَّ مِنْ مَشْرَبِهِ, فَمَشْرَبُهُ جَامِعُ لِجَمِيْعِ مَشَارِبِ الطُرُقِ, فَهُوَ مُخْتَصُّ بِهِ رَضِيَ اللهٌ عَنْهُ. (الخلاصة الوافية: 76)
“Adapun keutamaan Syeikh Sayyidina ra, sebenarnya samgat terkenal dan terang benderang bagaikan matahari di tengah cakrawala langit. Dia adalah Al Quthbul Maktuum (wali quthub yang dirahasiakan), dan gudang rahasia (uluhiyah dan rabubiyah), dan penutup bagi martabat para wali quthub dari ummat Nabi Muhammad SAW, dan para wali yang shalih, maka tak ada seorang walipun yang punya martabat sebanding dengan martabat beliau, dan tidak ada maqam yang lebih mulya dan lebih tinggi dari maqam beliau, dan tidak ada masyrab (telaga ilmu kewalian) yang lebih luas dan lebih sempurna dari masyrab beliau, sedangkan masyrab beliau adalah kumpulan dari masyrabnya seluruh thariqah, dan hal tersebut dikhususkan untuk Sayyidi Syeikh Ahmad bin Muhammad At Tijani radliyallaahu anhu”. (Al Khalashatul Waafiyah:76)Berikut ini kami kutip beberapa pernyataan beliau berkaitan dengan tugas dan haliyah Al Quthbul Maktuum, antara lain:
.
قَالَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ وَنَفَعَنَا بِأَسْرَارِهِ وَعُلُومِهِ : قَدْ أَخبَرَنيِ سَيِّدُ الوُجُودِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ بِأَنِّي القُطبُ الْمَكتُومِ مِنْهُ إِلَيَّ مُشَافَهَةً يَقْظَةً لاَمَنَامًا(رماح: 2 \495)
Berkata Sayyidi Syeikh radliyallaahu ‘anhu, dan semoga kita mendapat manfaat dari asrar dan ilmunya: Benar benar telah mengabarkan kepadaku Sayyidul Wujud Rasulullah SAW bahwa sengguhnya aku adalah Al Quthbul Maktuum, (kabar ini) disampaikan langsung dari beliau kepada saya dalam keadaan sadar (yaqadzah) bukan dalam mimpi”.(Rimah (cetakan terbaru) Jilid 2: 495).وَسُئِلَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ مَا مَعْنَى الْمَكتُومُ؟ فَقَالَ هُوَ الَّذِي كَتَمَهُ اللهُ عَنْ جَمِيْعِ خَلْقِهِ حَتَّى الْمَلاَئِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ إِلاَّ سَيِّدُ الوُجُودِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهُ عَالِمٌ بِهِ وَبِحَالِهِ وَهُوَالَّذِي حَازَ كُلُّ مَاعِنْدَ الْأَولِيَاءِ مِنَ الكَمَالاَتِ الإِلَهِيَّةِ, وَاحْتَوَى عَلَى جَمِيْعِهَا(رماح: 2 \495)
Dan ditanya Sayyidi Syeikh radliyallaahu ‘anhu tentang apa maksud / makna Al Maktuum?… Beliau menjawab: Dia (adalah wali) yang dirahasiakan oleh Allah dari (pandangan dan pengetahuan) seluruh mahluk-Nya. Bahkan para malaikat dan para nabi (tidak diberi tahu). Kecuali Sayyidul Wujud Rasulullah SAW. Sesungguhnya beliau mengetahui (siapa wali Al Maktuum) itu dan juga tahu tentang hal ihwalnya. Dan Dialah (Al Maktuum) yang menghimpun semua kesempurnaan sifat ilahiyah yang ada pada para wali dan menjadi penjaga bagi semuanya. “.(Rimah (cetakan terbaru) Jilid 2: 495).قَالَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ: أَنَا سَيِّدُ الأَولِيَاءِ كَمَا أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ الأَنْبِيَاءِ. (رماح: 2 \495)
Berkata Sayyidi Syeikh radliyallaahu ‘anhu: “Aku adalah penghulu bagi para wali sebagaimana Rasulullah SAW sebagai penghulu bagi para nabi. (Rimah (cetakan terbaru) Jilid 2: 495).قَالَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ وَأَرْضَاهُ: لاَيَشْرَبُ وَلِيٌّ وَلاَيَشْقَى إلاَّ مِنْ بَحرِنَا مِنْ نَشَأَةِ العَالَمِ إِلَى النُّفِخُ فِى الصُّورِ. (رماح: 2 \495)
Berkata Sayyidi Syeikh radliyallaahu ‘anhu wa ardhaahu: “Tak seorang walipun yang minum atau mengambil ilmu kewalian, kecuali ia mengambil dari lautan ilmu kewalianku, sejak permulaan alam diciptakan sampai ditiupnya sangkakala”. (Rimah (cetakan terbaru) Jilid 2: 495).وَقَد ثَبَّتَ عَن شَيخِنَا رَضِيَ اللهُ عَنهُ أَنَّ سَيِّدُ الوُجُودِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَخبَرَهُ يَقظَةً بِأَنَّهُ الخَتْمُ الْمُحَمَّدِي الْمَعْرُوفُ عِندَ جَمِيْعِ الأَقْطَابِ وَالصِّدِّقِينَ. بِأَنَّ مَقَامَهُ لاَمَقَامَ فَوقَهُ فِى بِسَاطِ الْمَعْرِفَةِ بِاللهِ تَعَالَى وهَذَا الخَتْمُ هُوَ الْمُتَلَقَّى لِجَمِيْعِ مَا يُفِيْضُ مِنْ ذَوَاتِ الأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ مِنَ الإِمْدَادِ وَهُوَ الْمُفِيْضُ لِتِلْكَ الإِمْدَادِ عَلَى جَمِيْعِ الأَوْلِيَاءِ وَإِنْ لَمْ يَعْلَمُوا بِهِ. وَفَضْلُ سَيِّدُنَا الشَّيْخِ رَضِيَ اللهُ عَنهُ لاَيُحْصِرُ بِالْعَدَدِ وَلاَ يُدْرِكُ بِالقِيَاسِ وَلاَيُحِيْطُ بِهِ الأَقْلاَمُ وَلاَ يَعْلَمُ حَقِيقَةُ فَضْلِهِ إِلاَّ الله اَلَّذِي تَفَضَّلَ بِهِ عَلَيْهِ وَرَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ. (الخلاصة الوافية: 76)”Dan benar benar telah ditetapkan, (sebuah) kabar dari Sayyidi Syeikh radliyallaahu ‘anhu, bahwa sesungguhnya Sayyidul wujuud SAW memberinya kabar dalam keadaan sadar (bukan mimpi) bahwa dia adalah Al Khatmul Auliya’ yang terkenal di kalangan para wali quthub dan para shiddiqiin. Bahwa sesungguhnya maqam beliau adalah maqam yang tidak ada lagi maqam diatasnya dalam masalah kema’rifahan kepada Allah SWT, dan (pemilik maqam) Al Khatmu ini adalah Dia yang menerima langsung (aliran) madaad yang turun dari para nabi alaihimus shalatu was salaam, dan dia pula yang membagi (aliran madad) tersebut kepada para setiap wali (quthub) walaupun mereka tidak tahu (hal tersebut). Dan keutamaan Sayyidi Syeikh radliyallaahu ‘anhu tidak terhitung lagi jumlahnya, dan tidak bisa dijangkau dengan berbagai perumpamaan, dan tidak akan mampu ditulis dengan pena, dan tidak ada yang tahu hakekat keutamaannya kecuali Allah SWT yang memberikan keutamaan tersebut dan Rasulullah SAW”. (Al Khalashatul Waafiah :76).

Link terkait: https://machrus71.blogspot.com/2017/04/sayyidi-syeikh-ahmad-at-tijani-ra-bahwa.html