8 NASEHAT IMAM AL GHAZALI

NASEHAT IMAM AL GHAZALI

Wahai anakku, aku  akan memberimu nasihat 8 perkara dan terimalah itu, supaya ilmumu tidak menjadi musuhmu pada Hari Kiamat. Dan dari 8 nasehat itu, lakukanlah yang 4 dan tinggalkanlah yang 4.

4 (EMPAT) PERKARA YANG SEBAIKNYA KAU TINGGALKAN:

Pertama: Janganlah mendebat seseorang dalam masalah yang telah kamu kuasai. Karena dalam hal ini terdapat kerugian yang banyak. Kemudian dosanya lebih besar dari pada kemanfaataannya, karena hal terebut merupakan sumber semua akhlak tercela seperti; riya’ , dengki, sombong, sakit hati, permusuhan, saling membanggakan dan lain sebagainya. Maka ada dua tanda yang harus diperhatikan:

  • Tidak membeda-bedakan antara kebenaran itu terungkap melalui mulut mu atau lisan orang lain.

  • Pembahasan di tempat  sepi lebih kau sukai daripada pemahasan di tempat yang ramai.

Kedua Hendaknya waspada jika kamu menjadi pemberi nasehat dan orang yang mengingatkan. Karena terdapat bahaya yang besar kecuali kamu melaksanakan terlebih dahulu apa yang akan aku sampaikan, barulah kau menasehati sesama. Untuk itu, renungkanlah apa yang telah disampaikan kepada nabi Isa as; “Wahai Putra Maryam, nasihatilah dirimu sendiri dahulu, apabila kau bisa menerima nasihatmu sendiri maka maka baru kau menasehati para manusia, apabila kau belum bisa menerima nasehatmu sendiri, merasa malulah kepada Tuhanmu.”

Berhati-hatilah pada 2 (dua) perkara:

  • Berhati-hatilah dari takalluf dalam ucapan (yakni omongan yang berbelit-belit, sulit dipahami). Karena sesungguhnya Allah ta’ala membenci mutakallif (orang-orang yang mempersulit dan dibuat-buat). Adapun mutakallif yang melewati batas itu menunjukkan kerusakan batin dan kelalaian pada hatinya.

  • Janganlah tujuanmu memberi nasehat adalah membuat orang-orang berbuat yang berlebihan, menangis atau memperlihatkan rasa suka ataupun marahnya.

Ketiga: Janganlah bergaul dengan para pejabat dan para penguasa, janganlah memandang mereka, karena melihatnya, bergabung dan bergaul dengan mereka merupakan bencana yang besar. Apabila kau mendapatkan cobaan itu, maka janganlah memuji dan menyanjung mereka.

Keempat : jangan kau terima apapun dari pemberian para pejabat dan hadiah-hadiah dari mereka, walaupun kau mengetahui bahwa pemberian tersebut dari jalan halal. Sebab, thama’  dari mereka itu bisa merusak agama, karena thama’ tadi dapat menimbulkan perbuatan cari muka, menjilat, membela pihak mereka dan menyetujui perbuatan kedzaliman mereka.

4 (EMPAT) PERKARA YANG SEBAIKNYA KAU LAKUKAN:

Pertama: menjadikan semua pekerjaanmu karena Allah ta’ala,sekiranya jikalau bawahanmu bekerja bersamamu, kau merasa rela dan puas dengan kerjanya dan hatimu tidak merasa kecewa dan marah. Dan sesuatu yang tidak membuatmu rela (ridha) dari yang dilakukan bawahanmu yang majazi maka kau juga tidak membuat rela (ridha)  Allahta’ala sementara Dia adalah tuanmu yang sebenarnya.

Kedua: Saat kau bekerja bersama orang lain maka jadikanlah mereka seperti halnya kau merasa puas karena pekerjaan mereka, karena: Tidak sempurna iman seorang hamba sehingga ia membuat senang orang lain dengan apa saja yang menjadikan hamba itu sendiri merasa senang.

Ketiga: Ketika kau membaca ilmu pengetahuan dan mempelajarinya kembali, sebaiknya ilmumu itu bisa memperbaiki hatimu dan membersihkan jiwamu. Seperti halnya apabila kau telah mengetahui bahwa umurmu yang tersisa kurang satu minggu, pastilah kau tidak akan tersibukkan dengan ilmu fiqih, ilmu akhlaq, ilmu usul, ilmu kalam, dan ilmu-ilmu lainya. Karena kau sudah mengetahui bahwa ilmu-ilmu tadi tidak akan mencukupimu. Namun sebaiknya kau tersibukkan pada:

  • Dengan mengoreksi hati

  • Mengetahui sifat-sifat (kecenderungan) hati dan jiwa

  • Memalingkan diri dari hubungan keduniawian,

  • Membersihkan hatimu dari akhlak-akhlak tercela,

  • Menyibukkan diri dengan mencintai Allah ta’ala dan beribadah pada-Nya,

  • Menyibukkan diri memperbaiki diri dengan memenuhi dirimu sendiri dengan sifat-sifat yang baik.

Dan waktu sehari semalam tidak akan berlalu begitu saja bagi seseorang kecuali bisa saja kematiannya terjadi pada waktu tersebut.

Keempat: Janganlah mengumpulkan harta dunia melebihi kecukupan sunnah.  Seperti dulu Rasullulah alaihi assholatu wassalam, yang menyediakan kebutuhan (dunia) bagi sebagian istri-istrinya. Dan beliau berdo’a: “Ya Allah jadikanlah kebutuhan makanan pokok keluarga  Muhammad tercukupi.” Rasulullah tidak menyediakan hal tersebut pada masing-masing isterinya. Namun Rasulullah menyediakannya bagi yang telah diketahui bahwa di dalamnya hatinya terdepat kelemahan. Adapun isrti yang telah yakin maka Rasulullah tidak menyediakan baginya kebutuhan dunia melebihi kebutuhan satu atau setengah hari.

(Kitab Ayyuhal Walad)