RISALATUL QUSYAIRI

RISALATUL QUSAIRI
1.       TAUBAT:  Abd al-Karim ibn Hawazinal-Qusyairi

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahawa Rasulullah saw mengatakan – ‘Orang yang bertaubat dari dosa adalah seperti orang yang tidak berdoa, dan jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya dosa tidak melekat pada dirinya.’
Ketika beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, apa tandanya taubat?”, Rasulullah menjawab, “Menyesali kesalahan.”
Anas bin Malik meriwayatkan bahawa Rasulullah saw mengatakan, “Tiada sesuatu yang lebih dicintai oleh Allah selain pemuda yang bertaubat.”
Makna taubat dalam bahasa Arab adalah kembali – ia merupakan tingkat pertama di antara maqam yang dialami oleh sufi, dan tahap pertama di antara tahap-tahap yang dicapai oleh salik (si penempuh jalan Allah).
Sebuah hadis mengatakan, “Pengingat Tuhan di dalam hati setiap insan adalah Muslim.”
Abu Hafs Al-Haddad mengatakan, “Saya meninggalkan suatu perbuatan tercela, lalu kembali kepada Nya. Kemudian perbuatan itu meninggalkan saya, dan sesudah itu saya tidak kembali kepada Nya.”
Syeikh Abu Ali Al-Daqqaq mengatakan, “Salah seorang murid bertaubat, kemudian menerima ujian. Dia bertanya-tanya di dalam hati, “Jika saya bertaubat, bagaimanakah keadaan saya nanti?”

Syeikh Abu Ali Al-Daqqaq pula mengatakan: Taubat dibahagikan menjadi 3 tahap: tahap pertama adalah tawbah (taubat), tahap kedua adalah inabah (berpaling kepada Tuhan), dan tahap akhir adalah awbah (kembali).

Al-Junaid menyatakan, “Taubat mempunyai 3 makna. Pertama menyesali kesalahan; kedua tetap hati untuk tidak mengulang kembali kepada apa yang telah dilarang oleh Allah SWT, dan ketiga adalah menyelesaikan keluhan orang terhadap dirinya.”
Sahl Ibn Abdullah menyatakan, “Taubat adalah menghentikan sikap suka menunda-nunda.”
Al-Harith menegaskan, “Saya tidak pernah mengatakan , “Wahai Tuhanku, aku memohon ampunan-Mu.’ Saya mengatakan, ‘Kurniakan kepadaku, wahai Tuhan, kerinduan untuk bertaubat.’

Al-Junaid mengunjungi As-Sari pada suatu hari, dan mendapatinya sedang kebingungan. Dia bertanya, “Apa yang terjadi atas dirimu?”
As-Sari menjawab, “Aku bertemu dengan seorang pemuda, dan dia bertanya tentang taubat kepadaku. Ku beritahu dia – ‘Taubat adalah engkau tidak melupakan dosa-dosamu.’ Lantas dia menegurku dengan mengatakan, ‘Taubat adalah bahwa engkau benar-benar melupakan dosa-dosamu.’ Al-Junaid mengatakan bahwa yang dikatakan oleh pemuda itulah yang benar. As-Sari bertanya kepadanya mengapa dia berpendapat seperti itu. Al-Junaid menjawab, ‘Karana apabila aku kafir dan kemudian Dia membimbingku menjadi Muslim, maka ingatan akan kekafiran dalam taubat merupakan kekafiran.’ As-Sari lalu terdiam.
Al-Junaid merujuk taubatnya orang-orang yang telah mencapai kebenaran, yang tidak ingat akan dosa-dosa mereka lagi karana keagungan Allah SWT telah menguasai hati mereka, dan dzikr (mengingat Dia) yang terus mereka lakukan.

Menurut Ruwaym, : Ia adalah taubat dari taubat.
Dzun Nun Al-Mishri memberi penjelasan, “Taubat dari kalangan orang awam adalah taubat dari dosa, dan taubat kaum terpilih adalah taubat dari kealpaan.”

Abul Hussain An-Nuri mengatakan, “Taubat adalah bahawa engkau berpaling dari segala sesuatu selain Allah SWT.”
Yahya bin Muaz berdoa, “Wahai Tuhanku, aku tidak mengatakan bahwa aku telah bertaubat. Aku tidak kembali kepada-Mu dikerenakan sesuatu yang menurutku adalah kecenderunganku, aku tidak bersumpah bahwa aku tidak akan berbuat dosa lagi, karana aku mengetahui kelemahanku sendiri. Aku tidak mengatakan bahwa aku kembali kepada-Mu kirana bisa jadi aku mati sebelum kembali dengan sunguh-sungguh.”

Dzun Nun mengatakan, “Permohonan keampunan diajukan dengan tidak disertai kehati-hatian adalah taubatnya para pendusta.”

Ketika Ibn Yazdanyar ditanya tentang prinsip-prinsip yang menjadi asas perjalanan seorang hamba menuju Tuhan, dia menjawab, “Prinsip-prinsip yang engkau maksudkan ialah bahwa dia tidak kembali kepada sesuatu yang telah dia tinggalkan, tidak meminta segala sesuatu selain Yang Esa yang kepada Nya dia menuju, dan menjaga lubuk hatinya dari menginginkan sesuatu yang darinya dia telah menjauhkan diri.”
“Taubat ialah saat di mana engkau mengingat dosa dan tidak menemukan kemanisan di dalamnya.”, kata Al-Bunsyanji.

“Perasaan taubat adalah bahwa bumi ini terlalu sempit bagimu meskipun ia luas sehingga engkau tidak menjumpai tempat untuk beristirahat. Lalu engkau merasakan jiwamu terbatas, kerana Allah SWT telah mengatakan dia dalam Al Quran:
“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Taubah, 9:118)

Ibn Atha’ mengatakan “Terdapat dua jenis taubat: inabah (kembali) dan istijabah (menjawab atau memenuhi) Dalam inabah sang hamba bertaubat kerana takut akan hukuman; dalam istijabah dia bertaubat kerana malu akan kedermawan-Nya.

Abu Hafs mengatakan, “Seorang hamba tidak bersangkut paut dengan taubat. Taubat datang kepadanya, bukan dari dirinya.”
Abu Hafs ditanya, “Mengapa orang-orang bertaubat membenci dunia?” Dia menjawab, “Karana ia merupakan tempat dosa-dosa dikejar.” Dan dikatakan kepadanya, “Ia juga tempat tinggal yang dijunjung tinggi oleh Tuhan dengan taubat. Dia mengatakan, “Pendosa mendapatkan keyakinan dari dosanya, tetapi mendapatkan bahaya dari penerimaan atas taubatnya.”

Diriwayatkan bahawa Allah SWT berfirman kepada Adam, “Wahai Adam, Aku telah mewariskan anak cucumu beban dan penderitaan Aku juga telah mewariskan kepada mereka taubat. Aku menjawab seorang di antara mereka, yang berdoa dengan sunguh-sungguh kepada Ku sebagaimana kamu telah berdoa kepada-Ku, sama sebagaimana Aku menjawabmu. Wahai Adam, Aku akan membangkitkan orang-orang yang bertaubat dari kubur-kubur mereka dalam keadaan gembira; doa mereka akan Ku-jawab.”
Diriwayatkan seseorang telah bertanya kepada Rabiah, “Saya telah sering berbuat dosa dan menjadi semakin tidak taat. Tetapi, apabila saya bertaubat, apakah Dia akan mengampuninya?” Rabiah menjawab: ‘Tidak – tetapi apabila Dia mengampunimu, maka engkau akan bertaubat.’

Adalah perbuatan Nabi Muhammad saw bertaubat terus-menerus. Beliau mengatakan, “Hatiku suram, oleh kerana itu aku memohon ampunan Allah 70 kali dalam sehari.”
Yahya bin Muaz menyatakan, “Satu pelanggaran saja sesudah taubat lebih patut ditakuti berbanding 70 pelanggaran sebelum taubat.

وَقُللِّلۡمُؤۡمِنَـٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَـٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا‌ۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِہِنَّ‌ۖ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآٮِٕهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآٮِٕهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٲنِهِنَّ أَوۡ بَنِىٓ إِخۡوَٲنِهِنَّ أَوۡ بَنِىٓ أَخَوَٲتِهِنَّ أَوۡ نِسَآٮِٕهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَـٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّـٰبِعِينَ غَيۡرِ أُوْلِى ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٲتِ ٱلنِّسَآءِ‌ۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ‌ۚ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ 

“Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, apa yang mereka perbuat.” “Katakanlah kepada wanita yang beriman :”Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka meukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur:31)

وَيَسۡـَٔلُونَكَعَنِ ٱلۡمَحِيضِ‌ۖ قُلۡ هُوَ أَذً۬ى فَٱعۡتَزِلُواْ ٱلنِّسَآءَ فِىٱلۡمَحِيضِ‌ۖ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطۡهُرۡنَ‌ۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٲبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri[137] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. apabila mereka Telah suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (Al-Baqarah:222)
إِنَّمَا يَسۡتَجِيبُ ٱلَّذِينَ يَسۡمَعُونَ‌ۘ وَٱلۡمَوۡتَىٰ يَبۡعَثُہُمُ ٱللَّهُ ثُمَّ إِلَيۡهِ يُرۡجَعُونَ 

Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nya-lah mereka dikembalikan. (Al-An’am:36)
2.        BERDAYA UPAYA (MUJAHADAH): Abd al-Karim ibn Hawazinal-Qusyairi

Didalam Alquran menjelaskan mengnai Mujahadah

وَٱلَّذِينَ جَـٰهَدُواْ فِينَا لَنَہۡدِيَنَّہُمۡ سُبُلَنَا‌ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ


Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik .(Al-Ankabut: 69)

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, dari Rasulullah saw, “Jihad yang terbaik adalah perkataan yang adil yang disampaikan kepada seorang penguasa yang zalim”
Abu Uthsman Al-Maghribi menyatakan, “Adalah kesalahan besar bagi seseorang membayangkan bahwa dia akan mencapai sesuatu dijalan-Nya atau bahwa sesuatu di jalan-Nya akan tersingkap baginya tanpa berjihad”

Al-Hassan Al-Qazzaz menjelaskan, “Masalah ini (kerohanian) didasarkan pada 3 hal; anda makan hanya ketika hal itu diperlukan, anda tidur hanya ketika mengantuk, dan anda berbicara hanya dalam hal-hal yang mengharuskan anda berbicara”
Jihad pada dasarnya adalah mencegah jiwa dari kebiasaan-kebiasaannya dan memaksanya menentang hawa nafsunya sepanjang waktu. Jiwa mempunyai dua sifat yang menghalanginya dalam mencapai kebaikan: berlarutan dalam memuja hawa nafsunya dan menolak kepada kepatuhan. Manakalan jiwa, seperti seekor kuda, cenderung kepada hawa nafsu, maka hendaklah mengendalikannya dengan kesolehan.

Selama bertahun-tahun seorang syeikh melakukan solat pada saf terdepan jemaah dalam masjid yang sering dikunjunginya. Pada suatu hari, sesuatu menghalanginya dari tiba di masjid pada awal waktu. Dia terpaksa menempati saf paling belakang. Sesudah itu dia tidak hadir lagi ke masjid untuk jangka waktu tertentu. Ketika ditanya kepadanya mengapa dia tidak hadir, dia menjawab, “Saya selalu melakukan solat di saf hadapan dan saya merasakan selama setahun ini saya ikhlas dalam melakukannya untuk mencari redha Allah SWT. Tetapi pada hari saya terlambat, saya merasa malu dilihat orang lain melakukan solat dibahagian belakang masjid. Dari hal ini, saya mengetahui bahawa semangat saya hingga saat itu dalam melakukan solat tidak lain, hanyalah riya’.

Dikhabarkan bahawa Abu Muhammad Al-Murta’isy mengatakan, “Saya berangkat haji dengan berjalan kaki dan tidak membawa bekal. Pada suatu ketika saya menyedari bahawa saya telah dikotori oleh rasa senang saya dalam melakukannya. Ini saya sedari pada suatu hari saat ibu saya meminta saya mengangkat setabung air untuknya. Jiwa saya merasakan hal ini sebagai beban berat. Saat itulah saya mengetahui bahawa apa yang saya sangka merupakan kepatuhan kepada Tuhan dalam haji saya tidak lain hanyalah kesenangan saya, yang datang dari kelemahan dalam jiwa saya, kerana apabila jiwa saya murni, nescaya saya tidak akan mendapati tugas saya sebagai sesuatu yang mengganggu saya.”

Pada suatu ketika seorang wanita lanjut usia ditanya mengenai keadaannya. Dia menjawab, “Ketika saya muda, saya mempunyai semangat dan mengalami berbagai keadaan. Saya berfikir bahawa keadaan-keadaan itu berasal dari kekuatan sejati keadaan kerohanian saya. Ketika saya menjadi tua, keadaan-keadaan ini melemah. Kini saya mengetahui bahawa yang saya sangka keadaan-keadaan kerohanian tidak lain hanyalah semangat remaja. “

Dzun Nun Al-Mishri menyatakan, “Penghormatan yang Allah berkenan memberikan kepada seorang hamba adalah menunjukkan kehinaan dirinya kepadanya; penghinaan yang Allah kurniakan kepada seorang hamba adalah menyembunyikan kehinaan dirinya dari pengetahuan dirinya sendiri”
Muhammad Ibn Al-Fadhl mengatakan, “Istirah adalah kebebasan dari keinginan hawa nafsu.”

Al-Nasrabadzi mengatakan, “Penjara adalah jiwa anda. Apabila anda melepaskan diri darinya, nescaya anda akan sampai kepada kedamaian.”

Abul Husain Al-Warraq menyatakan, “Ketika kami mulai menempuh jalan-Nya yaitu jalan sufi di Masjid Abu Utsman Al-Hiri, amalan terbaik yang kami lakukan adalah bahawa kami diberi zakat, kami memberikannya dengan rela kepada orang lain; kami tidak pernah tidur dengan menyimpan sesuatu tanpa disedekahkan; kami tidak pernah menuntut balas kepada seseorang yang menyinggung hati kami dan kami selalu memafkan tindakannya dan bersikap rendah hati kepadanya; dan jika kami memandang hina seseorang dalam hati kami, maka kami akan mewajibkan diri kami untuk melayaninya sampai perasaan memandang hina itu lenyap.”

Abu Hafs mengatakan, “Jiwa (nafs) keadaannya adalah gelap gelita. Pelita jiwa adalah rahsianya. Cahaya pelita ini adalah terhasil dalam berjihad. Orang yang tidak dianugerahi keberhasilan dalam berjihad oleh Tuhan, maka dalam rahsianya, seluruh dirinya adalah kegelapan”

Abu Hafs memaksudkan bahawa rahsia seorang hamba adalah apa yang ada di antara dirinya dan Allah SWT. Itu adalah tempat keikhlasannya. Dengannya si hamba tersebut mengetahui bahawa semua peristiwa adalah ciptaan Tuhan; peristiwa-peristiwa bukanlah ciptaan dirinya, tidak pula berasal darinya. Bila dia mengetahui hal ini, dia akan bebas dalam setiap keadaannya, dari kekuatan dan kekuasaannya sendiri. Selanjutnya, dengan cahaya keberhasilan dalam berjihad, dia bakal terlindungi dari kejahatan-kejahatan jiwanya. Orang yang tidak berhasil dalam berjihad tidak akan memperoleh manfaat dari pengetahuan tentang jiwanya atau tentang Tuhan.

Abu Utsman menyatakan, “Selama seorang melihat sesuatu yang baik dalam jiwanya, dia tidak akan mampu melihat kelemahan-kelemahannya. Hanya orang yang berani mendakwa dirinya terus-menerus selalu berbuat salahlah yang akan sanggup melihat kesalahannya itu.”
As-Sari berpendapat , “Waspadalah terhadap orang yang suka berjiran dengan orang kaya, pembaca-pembaca al-Quran yang sering mengunjungi pasar, dan ulama-ulama yang medekati penguasa.”
3.       MENGASINGKAN DIRI (UZLA): Abd al-Karim ibn Hawazinal-Qusyairi

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahawa Nabi saw mengatakan, “Di antara cara-cara terbaik bagi manusia dalam mencari penghidupan adalah: mengenderai kuda di jalan Allah (dalam perang jihad) dan apabila dia mendengar suara manusia-manusia yang panik atau ketakutan, dia memacu kudanya mencari mati syahid atau kemenangan di medan jihad; atau seseorang yang menggembalakan biri-biri dan kambing-kambingnya di puncak gunung atau di dalam lembah dan mendirikan solat, membayarkan zakat, dan beribadah kepada Tuhan sampai maut menjemputnya. Seluruh urusannya dengan sesama manusia didasarkan pada kebaikan.”

Sikap seorang hamba yang layak ketika dia memutuskan untuk memisahkan diri dari manusia adalah meyakini bahawa masyarakat akan terhindar dari kejahatannya, bukan bahwa dia akan terhindar dari kejahatan mereka.

Seorang melihat seorang rahib dan berkata kepadanya, “Anda seorang rahib?” Dia menjawab, “Bukan. Saya adalah anjing penjaga. Jiwa saya adalah seekor anjing yang menyerang umat manusia. Saya telah menjauhkannya dari mereka supaya mereka aman.”
Sesungguhnya, “Uzlah adalah menjauhi sifat-sifat yang tercela dan bertujuan mengubah sifat-sifat tersebut, bukan untuk mencipta jarak yang sejauh-jauhnya dari sesuatu tempat. Itulah sebabnya mengapa timbul pertanyaan, “Siapakah orang ‘arif itu?”. Mereka menjawab, yaitu “Orang yang dekat, dan pada saat yang sama, dia adalah orang yang jauh.” artinya, bersama dengan sesama manusia secara lahiriah, dan berada jauh dari mereka secara batiniah.

Syeikh Abu Ali Al-Daqqaq memberikan anjuran demikian, “Pakailah bersama sesama manusia apa yang mereka pakai, dan makanlah apa yang mereka makan. Tetapi terpisahlah secara batiniah.”
“Seseorang datang kepada saya dan berkata, “Saya datang dari tempat yang sangat jauh berkunjung kepada anda.” Selanjutnya saya mengatakan, “Masalah ini (yakni mendapatkan pengetahuan tentang Tuhan), tidak bersangkut paut dengan jauhnya jarak yang ditempuh. Berpisahlah dari diri anda sendiri dalam satu langkah saja, dan anda pasti mencapai tujuan anda.”

Yahya mengkhabarkan bahwa Abu Yazid mengatakan, “Saya melihat Tuhan dalam mimpi saya, lalu saya bertanya, “Bagaimana aku hendak bertemu dengan Mu?” Tuhan menjawab, “Tinggalkan dirimu dan datanglah.”

Yahya bin Muaz berkata, “Fikirkanlah apakah keakraban anda adalah dengan khalwat ataukah dengan Dia dalam khalwat. Apabila keakraban anda dengan khalwat, maka khalwat akan lenyap ketika anda keluar darinya. Apabila keakraban anda adalah dengan Dia dalam khalwat, maka di mana pun akan sama saja bagi anda, apakah di gurun pasir atau di padang rumput.”

Sahl mengatakan, “Khalwat baru sempurna dengan memakan makanan halal, dan memakan makanan halal baru sempurna dengan membayarkan zakat, yang adalah hak Tuhan.”
Dzun Nun Al-Mishri mengatakan, “Saya tidak menemukan satu hal pun yang lebih baik yang dapat melahirkan keikhlasan selain ‘uzlah.”

Abu Abdullah Al-Ramli menyatakan, “Gantikanlah kesertaan anda dengan orang lain menjadi sepi, makanan anda menjadi lapar, dan ucapan anda menjadi munajat. Maka anda akan mati atau mencapai Allah SWT.”

Dzun Nun Al-Mishri menyatakan, “Orang yang menyembunyikan dirinya dari sesama manusia melalui khalwat tidaklah seperti orang yang menyembunyikan dirinya dari sesamanya melalui Tuhan.”

Syuib Ibn Harb menyatakan, “Saya berangkat menemui Malik Ibn Mas’ud di Kufah, dan dia sendirian di dalam rumahnya. Saya bertanya, ‘Apakah anda tidak merasa sepi dan takut sendirian?” Dia menjawab, “Saya tidak menganggap bahwa seseorang yang bersama Tuhan adalah kesepian.”

Berkata Syuib Ibn Harb, “Wahai sahabatku! Sesungguhnya ibadah tidaklah kekal (istiqamah) dengan bergabung dengan yang lain. Orang yang belum akrab dengan Tuhan tidak akan menjadi akrab dengan apa pun.”

Seseorang ditanya, “Hal mengagumkan apakah yang telah anda temukan dalam perjalanan anda?” Dia menjawab, “Khidir as menjumpai saya dan dia ingin menyertai saya. Saya khuatir dia mengganggu pergantungan saya kepada Tuhan.”

Seseorang bertanya kepada Dzun Nun Al-Mishri, “Bila uzlah tepat bagi saya?” Dia menjawab, “Ketika anda sanggup memisahkan diri anda dari diri anda sendiri.”
Apabila Tuhan hendak memindahkan hamba-Nya dari kehinaan kekafikaran menuju kemuliaan ketaatan, Dia menjadikannya intim dengan bersendirian, kaya dalam kesederhaan, dan mampu melihat kekurangan dirinya. Barangsiapa telah dianugerahi semua ini beerti telah mendapatkan yang terbaik dari dunia dan akhirat.

4.        TAKUT PADA ALLAH (TAQWA): Abd al-Karim ibn Hawazinal-Qusyairi

Diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri, bahawa seseorang menghadap Nabi saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, bimbinglah saya.” Beliau menjawab, “Semoga anda mempunyai ketakwaan kepada Allah, karena ketakwaan adalah kumpulan seluruh hal yang baik. Semoga anda dapat melaksanakan jihad, kerana jihad adalah kerahiban kaum muslimin. Dan mudah-mudahan anda sibuk mengingat Allah, karena zikir adalah cahaya bagi anda.”

Al-Kattani mengatakan, “Dunia dibagi secara adil sesuai dengan penderitaan yang dideritai dan kehidupan akhirat dibagi secara adil sesuai dengan takwa.” Al-Jurairi mengatakan, “Orang yang belum menjadikan takwa dan kesedaran sebagai hakim, antara dirinya dan Tuhan tidak akan memperoleh makrifat dan kemanisannya.”

Al-Nasrabadzi menjelaskan, “Takwa adalah bahwa si hamba waspada terhadap segala sesuatu selain Allah SWT.” Sahl mengatakan, “Siapa pun menginginkan takwa yang sempurna, hendaklah menghindari setiap dosa.” Seseorang menegaskan, “Tuhan menjadikan berpaling dari dunia mudah bagi orang yang benar-benar bertakwa. “ Abu Abdullah Al-Rudzbari mengatakan, “Takwa adalah menghindarkan diri dari segala sesuatu yang menjadikan anda jauh dari Tuhan.” Abul Hasan Al-Farisi menyatakan, “Takwa mempunyai aspek luar dan aspek dalam. Aspek luarnya adalah perlaksanaan syariat dan aspek dalamnya adalah niat dan mujahadah.” Dikatakan, “Takwa itu ditandai oleh tiga sikap yang baik: tawakkal terhadap apa yang belum dianugerahkan, berpuas hati dengan apa yang telah dianugerahkan, dan bersabar dalam menghadapi milik yang hilang.”

Talq Ibn Habib menjelaskan, “Takwa adalah bertindak sesuai dengan ketundukan kepada Tuhan melalui petunjuk-Nya, dan pada saat yang sama takut kepada hukuman-Nya.” Pada suatu hari, Abu Yazid Al-Bustami membeli kunyit jingga di Hamadhan. Dia menjumpai hanya sedikit kunyit jingga, dan ketika dia kembali ke Bistham, dia menemukan dua ekor semut pada kunyit itu. Maka, dia kembali ke Hamadhan dan melepaskan kedua semut itu. Abu Hanifah tidak pernah mau berteduh di bawah kerindangan pohon milik orang yang berhutang kepadanya. Dia menjelaskan, “Sebuah hadith menyatakan, ‘Setiap hutang yang pengembaliannya disertai kelebihan adalah riba’. Abu Yazid sedang mencuci jubahnya di luar kota bersama seorang sahabatnya, ketika sahabatnya berkata, “Jemurlah jubah anda dipagar dinding kebun buah itu”. Abu Yazid menjawab, “Jangan menancapkan paku di dinding orang.” Sahabatnya menyarankan, “Jemurlah di atas pohon.” Abu Yazid menjawab, “Saya khawatir ia akan menyebabkan cabang-cabangnya patah.” Dia berkata, “Bentangkanlah ia di atas rerumput.” Abu Yazid menjawab, “Rerumput itu makanan haiwan ternak. Jangan kita menutupnya dengan jubah ini.” Selanjutnya, dia menghadapkan punggungnya sehingga satu sisi jubahnya yang menghadap matahari menjadi kering, lalu dia menghadapkan sisi yang lain ke matahari sehingga kering.

Pada suatu hari Abu Yazid memasuki masjid dan manancapkan tongkatnya ke tanah. Tongkat itu jatuh dan menimpa tongkat seseorang yang berusia lanjut, yang juga menacapkannya di tanah, dan menyebabkan tongkat orang tua tersebut jatuh. Orang tua itu membongkok, lalu mengambil tongkatnya. Abu Yazid pergi ke rumah orang tua tersebut dan meminta maaf kepadanya, dengan mengatakan, “Anda tentu merasa terganggu disebabkan kelalaian saya, ketika anda terpaksa membongkok.”

Utbah Al-Ghulam tampak bercucuran keringat di musim dingin. Ketika orang-orang di sekitarnya menanyakan hal itu kepadanya, dia memberikan penjelasan, “Ini adalah tempat di mana saya telah memberontak kepada Tuhan saya.” Ketika diminta memberikan penjelasan lebih lanjut, dia mengatakan, “Saya mengambil sebongkah tanah dari dinding ini, supaya tamu saya dapat membersihkan tangan dengannya,tetapi saya tidak meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik dinding ini.” Dikatakan bahwa takwa mempunyai bermacam-macam aspek; takwa bagi kaum awam adalah menghindari syirik, bagi kaum terpilih menghindari dosa, bagi ahli sufi menghindari pergantungan kepada amal, dan bagi para nabi menghindari menisbatkan amal kepada selain Tuhan, demi Dia. Amir Al-Mukminin Ali ra menyatakan, “Kaum yang paling mulia di antara seluruh ummat manusia di dunia adalah kaum dermawan, dan yang paling mulia di akhirat adalah kaum yang bertakwa.”

Diriwayatkan oleh Abu Umamah, bahawa Nabi saw menegaskan, “Apabila seseorang melihat kecantikan seorang wanita dan kemudian menundukkan matanya setelah tatapan pertama, maka Tuhan menjadikan tindakannya itu suatu ibadah yang rasa manisnya dirasakan oleh hati orang yang melakukannya.”

Al-Junaid sedang duduk-duduk bersama Ruwaym, Al-Jurairi dan Ibn Atha’. Al-Junaid mengatakan: “Seseorang hanya boleh selamat apabila berlindung secara ikhlas kepada Allah.

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍ۬ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَـٰكُمۡ شُعُوبً۬ا وَقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوٓاْ‌ۚ إِنَّ أَڪۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَٮٰكُمۡ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ۬ 
Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih takwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam PengetahuanNya (akan keadaan dan amalan kamu). (Al-Hujraat: 13)

 وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَعِبٌ۬ وَلَهۡوٌ۬‌ۖ وَلَلدَّارُ ٱلۡأَخِرَةُ خَيۡرٌ۬ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ‌ۗ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ 
Dan tidak (dinamakan) kehidupan dunia melainkan permainan yang sia-sia dan hiburan yang melalaikan dan demi sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Oleh itu, tidakkah kamu mahu berfikir? (Al-An’am: 32)

 وَيُنَجِّى ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ بِمَفَازَتِهِمۡ لَا يَمَسُّهُمُ ٱلسُّوٓءُ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ
Dan (sebaliknya) Allah akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa (yang menjauhkan diri dari perbuatan syirik dan maksiat) dengan mereka mendapat kemenangan besar (keredaan Allah) mereka tidak akan disentuh sesuatu yang buruk dan tidak akan berdukacita. (Az-Zumar: 61)

5.        WARAK : Abd al-Karim ibn Hawazinal-Qusyairi

Diriwayatkan oleh Abu Dzarr, Rasulullah saw bersabda, “Sebagian dari kebaikan tindakan seseorang mengamalkan Islam adalah bahwa dia menjauhi apa pun yang tidak bersangkut paut dengan dirinya.” Ibrahim Ibn Adham memberikan penjelasan, “Warak adalah meninggalkan apa pun yang meragukan, dan meninggalkan apa pun yang tidak bersangkut paut dengan anda bearti meninggalkan apa pun yang berlebih-lebihanan. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bahawa Nabi saw mengatakan, “Bersikaplah warak, dan kamu akan menjadi orang yang paling taat beribadah di antara ummat manusia.”

As-Syibli berpendapat, “Warak adalah sikap menjauhi segala sesuatu selain Allah SWT.”
Abu Sulaiman Ad-Darani mengatakan, “Warak adalah titik tolak zuhud, sebagaimana sikap puas terhadap apa yang ada adalah sebahagian utama dari redha.”
Yahya Ibn Mu’adz menyatakan, “Warak adalah membatasi diri makna zahir ajaran agama, dan tidak berusaha mentafsirkannya.”

Abdullah Ibn Al-Jalla’ mengatakan, “Saya mengetahui seseorang yang tinggal di Makkah selama tiga puluh tahun dengan tidak minum air zam-zam kecuali air zam-zam yang dia peroleh dengan timba dan talinya sendiri, dan dia tidak makan makanan yang dibawa ke sana dari kota-kota lain.”

Ali Ibn Musa Al-Thahirati menyatakan, “Sekeping wang logam kecil milik Abdullah Ibn Marwan jatuh ke dalam sebuah telaga berisi kotoran, lalu dia meminta bantuan seseorang untuk mengambilnya dengan membayarnya tiga puluh dinar. Ketika seseorang bertanya kepadanya, dia memberikan penjelasan, “Nama Allah SWT tertera pada uang itu.”

Yahya Ibn Muadz menegaskan, “Ada dua jenis warak: warak dalam pengertian zahir yaitu sikap yang mengisyaratkan bahwa tidak ada satu tindakan pun selain karana Allah SWT, dan warak dalam pengertian batin yaitu sikap yang mengisyaratkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang memasuki hati anda kecuali Allah SWT.” Dia juga magatakan, “Orang yang tidak memeriksa dan memahami seluk-beluk warak tidak akan mendapat anugerah.” Shufyan Al-Tsawri berpendapat, “Saya belum pernah melihat sesuatu yang mudah selain warak. Apa pun yang diinginkan oleh hawa nafsu anda, tinggalkanlah.”

Makruf Al-Karkhi mengajarkan, “Jagalah lidah anda dari pujian, persis sebagaimana anda menjaga lidah anda dari kritikan.” Bisyr Ibn Al-Hariths mengatakan, “Hal-hal yang paling sulit untuk dilaksanakan adalah bersikap dermawan di masa-masa sulit, warak adalah ‘uzlah, dan menyampaikan kebenaran kepada seseorang yang kepadanya anda takut, dan menggantungkan harapan.” Saudara perempuan Bisyr Al-Hafi mengunjungi Ahmad Ibn Hanbal dan memberitahukan kepadanya, “Kami sedang memintal di atas atap rumah kami, ketika obor kaum Thahiri berlalu dan cahayanya menyinari kami. Apakah diperbolehkan bagi kami memintal di dekat cahayanya?” Ahmad bertanya, “Siapakah anda?” Dia menjawab, “Saya adalah saudara perempuan Bisyr Al-Hafi.” Ahmad menangis, lalu berkata, “Warak yang dilandasi kesolehan muncul dari keluarga anda. Jangan memintal di dekat cahaya itu.”
Ketika Sahl Ibn Abdullah ditanya mengenai hal yang halal, dia menegaskan, “Sesuatu yang halal adalah sesuatu yang padanya tidak terkandung dosa terhadap Allah SWT dan kealpaan kepada-Nya.”

Sewaktu Hasan Al-Bishri memasuki Makkah, dia melihat salah seorang keturunan Ali Ibn Abi Talib ra bersandar ke Kaabah dan berceramah di hadapan sekumpulan orang. Hasan bergegas menghampirinya, lalu bertanya, “Apakah dasar agama?” Dia menjawab, “Warak.” Hasan bertanya lagi: “Apakah yang merusakkan agama?” Dia menjawab, “Keserakahan.” Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Musa as, “Seseorang yang mendekati-Ku mampu memindahkan malam kepada-Ku hanya melalui warak dan zuhud.”

Sedikit minyak kesturi yang berasal dari rampasan perang dibawa ke hadapan Umar Ibn Abdul Aziz. Umar yang mencium baunya berkata, “Satu-satunya menfaatnya adalah bau harumnya, dan saya tidak ingin hanya saya sendiri yang menciumnya, sementara seluruh kaum Muslim tidak berbagi mencium baunya.”

Ketika ditanya tentang warak, Abu Utsman Al-Hiri menyatakan, “Abu Salih Hamdun berada bersama salah seorang sahabatnya yang sedang menjelang maut. Orang tersebut meninggal, dan Abu Salih memadamkan lampu. Seseorang bertanya kepadanya tentang hal ini, lalu dia mengatakan, “Sampai sekarang minyak yang di dalam lampu ini adalah minyaknya, tetapi sejak saat ini dan seterusnya minyak ini menjadi milik para ahli warisnya. Carilah minyak yang bukan miliknya.”

Kahmas melaporkan, “Saya meratapi – selama 40 tahun – satu perbuatan dosa yang telah saya lakukan. Salah seorang saudara saya mengunjungi saya, dan saya membeli sepotong ikan yang direbus untuknya. Ketika dia berhenti memakannya, saya mengambil sebongkah tanah dinding milik tetangga saya, supaya dia dapat membersihkan tangannya dengannya, dengan tidak meminta izin terlebih dahulu dari tetangga itu.”

Seseorang sedang menulis catatan sewaktu dia di sebuah rumah sewa, dan dia ingin mengeringkan tulisannya dengan debu yang dia peroleh dari dinding. Dia teringat bahawa rumah tersebut adalah sewa, tetapi dia berpendapat bahawa itu tidak penting. Oleh kerana itu, dia mengeringkan tulisan tersebut dengan debu. Kemudian, dia mendengar sebuah suara mengatakan: “Orang meremehkan debu akan melihat betapa lama perhitungan amalnya kelak.”

Ahmad Ibn Hanbal menggadaikan sebuah timba kepada seorang penjual bahan makanan di Makkah. Ketika dia ingin menebusnya, penjual bahan makanan tersebut mengeluarkan dua timba, sambil mengatakan, “Ambil timba kepunyaan anda.” Ahmad menjawab, “Saya ragu. Oleh kerana itu simpan saja baik kedua timba dan uang itu.” Penjual bahan makanan tersebut memberitahu dia. “Ini timba anda. Saya hanya ingin menguji anda.” Maka dia menyahut, “Saya tidak akan mengambilnya,” lalu pergi meninggalkan timba kepunyaannya pada penjual bahan makanan itu.

Ibn Al-Mubarak membiarkan kudanya yang mahal berkeliaran dengn bebas ketika dia sedang melakukan solat zuhur. Kuda tersebut merumput di ladang milik ketua kampung. Oleh kerana itu, Ibn Al-Mubarak meninggalkan kuda tersebut dengan tidak mengenderainya. Rabiah Al-Adawiyah menjahit bajunya yang koyak di dekat lampu sultan, tiba-tiba dia terkejut dan lalu sedar. Maka, Rabi’ah mengoyak pakaiannya dan dia menemukan hatinya.

Hasan Ibn Abi Sinan tidak tidur terlentang atau makan makanan berlemak atau minum air dingin selama 60 tahun. Seseorang bermimpi bertemu dengannya, lalu bertanya kepadanya tentang apa yang telah Tuhan lakukan atas dirinya. Dia menjelaskan,“Dia telah berlaku baik, kecuali bahawa pintu Firdaus ditutup bagiku disebabkan oleh sebuah jarum yang aku pinjam dan tidak pernah aku kembalikan.”

Abd Al-Wahid Ibn Zahid mempunyai seorang pembantu rumah tangga yang bekerja dengannya selama bertahun-tahun dan beribadah secara kusyuk selama 40 tahun. Sebelumnya dia adalah seorang penimbang gandum. Da ketika dia meninggal, seseorang bermimpi bertemu dengannya. Ditanya tentang apa yang telah Tuhan lakukan atas dirinya, dia menyatakan, “Dia telah memperlakukan saya dengan baik, kecuali bahawa saya dihalangi memasuki pintu Firdaus disebabkan oleh debu pada timbangan gandum yang dengannya saya menimbang empat puluh bahagian gandum.”

Sewaktu Isa putra Maryam as melewati sebuah makam, seseorang berteriak dari dalam kuburan. Allah SWT menghidupkannya kembali, dan Isa bertanya kepadanya siapakah dia. Dia menjawab, “Saya adalah seorang pembuat seramik, dan pada suatu hari sewaktu saya menghantarkan kayu bakar untuk seseorang, saya mematahkan sepohon kayu kecil. Sejak saya meninggal, saya dianggap bertanggungjawab atas hal itu.”

Abu Said Al-Kharraz sedang berbicara tentang warak, ketika Abbas Ibn Al-Muhtadi berlalu dihadapannya. Dia bertanya, “Wahai Abu Said, apakah anda tidak mempunyai malu? Anda duduk di bawah atap Abu Al-Dawaniq, minum dari penampungan air Zubaidah, dan melaksanakan jualbeli dengan riba, tetapi berbicara tentang warak!

6.        LAPAR DAN MENAHAN NAFSU: bd al-Karim ibn Hawazinal-Qusyairi

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,(QS. 2:155)

Anas bin Malik menuturkan bahawa ketika Fatimah ra memberikan sepotong kecil roti kepada Rasulullah saw, baginda bertanya, “Apa ini wahai Fatimah?” Dia menjawab, “Sepotong roti yang saya masak sendiri. Hati saya tidak akan tenang sebelum saya memberikan roti ini kepada ayah.”. Beliau menjawab, “Ini adalah sepotong makanan pertama yang memasuki mulut ayahmu sejak 3 hari ini.”

Dikatakan Sahl bin Abdullah hanya makan setiap 15 hari. Manakala bulan Ramadhan tiba, dia tidak makan sampai dia melihat bulan baru, dan tiap kali berbuka, dia hanya minum air saja.

Sahl bin Abdullah berpendapat, “Ketika Allah SWT menciptakan dunia, Dia menempatkan dosa dan kebodohan di dalam kepuasan nafsu makan dan minum, serta menempatkan kebijaksanaan di dalam lapar.”

Yahya bin Muadz mengatakan, “Lapar adalah latihan pecinta bagi para murid, sebuah cobaan bagi yang bertaubat, dan cobaan-derita bagi penolak dunia, dan tanda kemuliaan bagi para ahli makrifat.

Abu Ali Ad-Daqqaq menuturkan, “Seseorang datang menjumpai salah seorang syeikh, dan ketika melihat beliau menangis, dia bertanya, “Mengapa anda menangis?” Sang Syeikh menjawab, “Aku lapar.” Dia mencela, “Seorang seperti anda ini menangis kerana lapar?”
Sang Syeikh balas mencela, “Diamlah. Engkau tidak mengetahui bahawa tujuan-Nya menjadikan aku lapar adalah agar aku menangis.”

Mukhallid mengkhabarkan bahawa Al-Hajjaj bin Furafisah sedang berada bersama mereka di Syam, dan selama 50 malam dia tidak minum air ataupun mengisi perut dengan makanan apa pun.”

Abu Utsman Al-Maghribi menyatakan, “Orang yang mengabdi kepada Tuhan hanya makan tiap 40 hari, dan orang yang mengabdi pada Yang Abadi hanya makan tiap 80 hari.” Sahl bin Abdullah ditanya, , “Bagaimana pendapatmu tentang orang yang makan sekali sehari?” Dia menjawab, ‘Itu adalah makannya orang beriman.”Bagaimana dengan makan 3 kali sehari? Dia mencela, “Suruh saja orang membuat kantong makanan untuknya.”

Yahya bin Muadz berpendapat, “Lapar adalah pelita, dan memenuhi perut adalah api. Hawa nafsu adalah seperti kayu api yang darinya muncul api, yang tidak akan padam sampai ia membakar pemiliknya.”

Bertanya sang sufi, “Sudah berapa lama anda tidak makan?”
Sang Sheikh menjawab, “5 hari.”

Si sufi berkata, “Lapar anda adalah laparnya kerakusan. Anda memakai pakaian (bagus) sementara anda lapar. Itu bukanlah lapar orang miskin!”

Selama beberapa hari, Abul Khayr Al-Asqalani sangat ingin memakan ikan. Lalu sejumlah ikan sampai ketangannya melalui jalan halal. Tetapi ketika tangannya meraih untuk memakannya, sepotong durinya telah mengenai tangannya. Katanya, “Ya Allah, jika hal ini menimpa orang yang menghulurkan tangan kerana ingin memakan barang yang halal, apa pula yang akan terjadi pada orang yang menghulurkan tangannya untuk sesuatu yang haram?”

Malik bin Dinar berkata, “Syaitan takut kepada bayangan manusia yang telah menaklukkan hawa nafsu duniawi.”

Abu Ali Ar-Rudzbari mengajarkan, “Jika seorang sufi, setelah 5 hari tidak makan, mengatakan ‘Aku lapar,’ maka kirimkanlah dia ke pasar untuk memperoleh sesuatu.” Seseorang bertanya kepada Syeikh, “Apakah tuan tidak menginginkan sesuatu?” Beliau menjawab, “Aku menginginkannya, tetapi aku menahan diri.”

Syeikh yang lain ditanya, “Adakah sesuatu yang tuan inginkan?”
Jawabnya, “Aku menginginkan hilangnya keinginan. Yang terakhir ini amat mustahil.” Bisyr berkata, “Telah bertahun-tahun aku ingin makan terung, tetapi aku belum ditakdirkan untuk memakannya. Aku tidak boleh memakannya sampai aku terbebas dari keinginanku untuk memakannya.”

Abu Abdullah bin Khafif memakan sepuluh butir kismis setiap kali berbuka puasa. Abu Turab An-Nakhsyabi berpendapat, “Jiwaku tidak pernah cenderung kepada hawa nafsuku kecuali sekali: ia ingin sekali makan roti dan telur ketika aku sedang berada dalam perjalanan. Tiba aku di sebuah perkampungan, seseorang bangkit dan memegang tanganku sambil berkata, “Perompak!” Lalu orang-orang disitu memukuliku sebanyak 70 kali. Seorang laki-laki di antara mereka mengenaliku dan berkata, “Ini adalah Abu Turab An-Nakhsyabi!” Lelaki itu dengan rasa hormat membawa aku ke rumahnya dan menjamuku dengan roti dan telur. Maka aku berkata kepada diriku, “Makanlah setelah 70 kali pukul.”

7.       ZUHUD:  Abd al-Karim ibn Hawazinal-Qusyairi

Diriwayatkan dari Abu Khallad, bahwa Nabi saw mengatakan, “Apabila kamu sekalian melihat seseorang yang telah dianugerahi zuhud berkenaan dunia dan ucapan, maka dekatilah dia, kerana dia dialiri kebijaksanaan.”

Sementara orang mengatakan, “Zuhud bersangkutan dengan hal-hal yang haram saja, sebab hal-hal yang halal diperbolehkan Tuhan. Apabila Tuhan memberikan berkah kepada hamba-hamba-Nya berupa harta yang halal, dan hamba itu sendiri bersyukur kepada Tuhan atas berkah itu, maka sikap zuhud berkenaan dengan harta seperti itu, menurut syariah-Nya, adalah makruh.”

Sebagian orang yang lain mengatakan, “ Zuhud terhadap hal-hal yang haram adalah suatu kewajiban, sementara zuhud terhadap hal-hal yang halal adalah suatu kebaikan. Apabila hamba yang berzuhud miskin, tetapi sabar terhadap keadaannya, bersyukur atas apa pun yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya, dan berpuas hati dengan apa yang telah Tuhan beri kepadanya, maka hal itu lebih baik berbanding berusaha mengumpul banyak kekayaan di dunia.

Allah menyeru manusia bersikap zuhud berkenaan dengan memiliki kekayaan, melalui firman-Nya, di dalam Surah An-Nisa, ayat 77

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ قِيلَ لَهُمۡ كُفُّوٓاْ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيۡہِمُ ٱلۡقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ۬ مِّنۡہُمۡ يَخۡشَوۡنَ ٱلنَّاسَ كَخَشۡيَةِ ٱللَّهِ أَوۡ أَشَدَّ خَشۡيَةً۬‌ۚ وَقَالُواْ رَبَّنَا لِمَ كَتَبۡتَ عَلَيۡنَا ٱلۡقِتَالَ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنَآ إِلَىٰٓ أَجَلٍ۬ قَرِيبٍ۬‌ۗ قُلۡ مَتَـٰعُ ٱلدُّنۡيَا قَلِيلٌ۬ وَٱلۡأَخِرَةُ خَيۡرٌ۬ لِّمَنِ ٱتَّقَىٰ وَلَا تُظۡلَمُونَ فَتِيلاً  

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.. (An-Nisa: 77)

Sebagian orang lain mengatakan, “Apabila seorang hamba membelanjakan harta dalam kepatuhan, bersabar, dan tidak mengajukan keberatan kepada apa yang dilarang oleh syariah untuk dia lakukan dalam kesulitan hidup, maka adalah lebih baik baginya bersikap zuhud terhadap hal-hal yang dihalalkan.”

Sebagian yang lain berpendapat, “Adalah tepat bagi seorang hamba memutuskan untuk tidak bersikap zuhud dengan sengaja terhadap hal-hal yang halal, tidak pula berusaha memenuhi keperluan-keperluan secara berlebihan, karana menyadari rezeki yang diberikan oleh Allah. Apabila Allah SWT menentukan dia berada pada batas hidup sederhana, maka dia hendaknya tidak memaksakan diri mencari kemewahan, kerana kesabaran merupakan sesuatu paling utama bagi pemilik harta yang halal. Berkenaan dengan makna zuhud, para sufi mengatakan, “Masing-masing orang berbicara sesuai dengan zamannya masing-masing dan menunjukkan batas (yang ditetapkannya) sendiri.”

Sufyan Al-Tsawri menyatakan, “Zuhud terhadap dunia adalah mengurangi keinginan untuk memperoleh dunia, bukan memakan makanan kasar atau mengenakan jubah dari kain kasar.”

Sari As-Saqati menegaskan, “Allah SWT menjauhkan dunia dari dari ahli sufi-Nya, menjauhkannya dari makhluk-makhluk-Nya yang berhati suci, dan menjauhkannya dari hati mereka yang Dia cintai, lantaran Dia tidak memperuntukkannya bagi mereka.” – sesuai dengan firman-Nya dalam surah Al-Hadid, ayat 23.

لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَٮٰڪُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ۬ فَخُورٍ  

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,

Yahya Ibn Muadz menyatakan, “Zuhud menyebabkan kedermawanan berkenaan dengan harta, dan cinta menghantarkan kepada semangat kederwanan.” Ibn Al-Jalla berpendapat, “Zuhud adalah sikap anda memandang dunia ini hina, karana dunia ini fana setelah itu, maka berpaling darinya akan menjadi mudah bagi anda.”

Ibnu Khafif mengatakan, “Petanda zuhud adalah adanya sikap tenang ketika berpisah dari harta milik.”

Al-Nasrabadzi menyatakan, “Seorang zahid adalah orang asing di dunia ini, dan seorang arif adalah orang asing di akhirat.”

Dikatakan, “Bagi orang yang benar-benar bersikap zuhud, dunia akan menyerahkan diri kepadanya dengan penuh kerendahan dan kehinaan.”

Junaid mengajarkan, “Zuhud adalah: Hati kosong dari sesuatu yang tangan tidak memilikinya.”

Abu Sulaiman Ad-Darani menegaskan, “Pakaian bulu domba adalah salah satu tanda zuhud; oleh sebab itu, tidak layak bagi seorang zahid mengenakan pakaian beharga 3 dirham jika dia menginginkan wang sebanyak 5 dirham.”

Al-Mubarak berpendapat, “Zuhud adalah tawakkal kepada Allah SWT dipadu dengan kecintaan kepada kefakiran.” Si hamba tidak mampu merelakan dunia kecuali dengan tawakkal kepada Allah SWT.

Abd Al-Wahid Ibn Zahid mengatakan, “Zuhud adalah menjauhkan diri dari dinar dan dirham.” Abu Sulaiman Ad-Darani mengatakan, “Zuhud adalah menjauhkan diri dari apa pun yang memalingkan anda dari Allah SWT.”

As-Sari mengatakan, “Kehidupan orang zahid tidak akan baik apabila dia tidak peduli terhadap jiwanya, dan kehidupan seorang arif tidak akan baik apabila dia terlalu mementingkan jiwanya.

Al-Junaid mengatakan, “Zuhud adalah mengosongkan tangan dari harta dan mengosongkan hati dari keterpautan.”

Yahya Ibn Mu’adz menyatakan, “Orang baru akan mencapai zuhud yang sebenar-benarnya apabila dia memiliki sifat-sifat ini: berbuat tanpa disertai keterikatan, berbicara tanpa disertai nafsu, dan kemuliaan tanpa adanya kekuasaan ke atas orang lain.”

Abu Hafs mengatakan, “Tidak ada zuhud kecuali dalam hal-hal yang halal.”

Abu Utsman mengatakan, “Allah SWT memberi seorang zahid sesuatu lebih daripada yang dia inginkan, dan Dia memberikan sesuatu kepada hamba yang dicintai-Nya kurang dari yang dia inginkan, dan Dia memberi hamba yang takut sebanyak yang benar-benar diinginkan.” Muhammad Ibn Al-Fadhl mengatakan, “Kedermawanan kaum pecinta adalah pada waktu mereka berkecukupan, dan kedermawanan kaum pembela adalah pada waktu yang sangat diperlukan.” Seseorang bertanya kepada Yahya Ibn Mu’adz, “Bilakah saya akan memasuki kedai tawakkal, mengenakan jubah zuhud, dan duduk di dalam majlis bersama kaum pecinta?” Dia menjawab, “Ketika anda tiba pada suatu keadaan – dalam latihan untuk cinta secara diam-diam – yang di dalamnya apabila Tuhan menghentikan nafkah anda selama 3 hari, jiwa anda tidak melemah. Tetapi, apabila tujuan ini tidak tercapai, maka duduk di atas karpet kaum pecinta hanyalah kebodohan, dan saya tidak dapat menjamin bahawa anda tidak akan terhinakan di tengah-tengah mereka.” Dikatakan, “Manakala seorang hamba menjauhkan diri dari dunia, maka Allah SWT mempercayakan dirinya kepada malaikat yang menanamkan kebijaksaan di dalam hatinya.” Ahmad Ibn Hanbal memberikan penjelasan, “Ada 3 macam zuhud: bersumpah menjauhi hal yang haram adalah zuhud kaum awam, bersumpah menjauhi berlebihan dalam hal-hal yang halal adalah zuhud kaum terpilih, dan bersumpah menjauhi apa pun yang mengalihkan sang hamba dari Allah SWT adalah zuhud kaum arif.” Al-Nasrabadzi berpendapat, “Zuhud memelihara darah kaum pecinta dan menumpahkan darah kaum arif.” Hatim Al-Asamm berkata, “Kaum pecinta menghabiskan isi dompetnya sebelum dirinya, dan orang bertarekat menghabiskan dirinya sebelum isi dompetnya.”

1 Komentar

Tinggalkan Balasan